6 Kerangka Kerja Manajemen Risiko yang Harus Diterapkan Perusahaan

Artikel

7 Menit Membaca–

Setiap perusahaan/organisasi perlu menetapkan kerangka kerja manajemen risiko sebagai dasar dalam pelaksanaan kegiatan manajemen risiko. Kerangka kerja manajemen risiko akan membantu perusahaan dalam mengelola risiko lebih efektif yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun perencanaan strategis, pengambilan keputusan, dan pengendalian risiko.

Kerangka kerja merupakan salah satu elemen utama manajemen resiko dalam ISO 31000;2018. Kerangka kerja manajemen risiko bertujuan untuk membantu perusahaan atau organisasi dalam mengintegrasikan manajemen risiko pada keseluruhan fungsi dan kegiatan organisasi. 

Kerangka kerja manajemen risiko diartikan sebagai seperangkat komponen yang menyediakan landasan atau pondasi pengaturan dalam merancang, mengimplementasikan, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan secara terintegrasi dengan dasar kepemimpinan dan komitmen yang kuat.

Dalam ISO 31000:2018 kerangka kerja manajemen risiko terdiri dari  kepemimpinan dan komitmen sebagai pusat atau dasar, kemudian ditopang oleh siklus dari integrasi, desain, implementasi, evaluasi dan perbaikan. 

Kepemimpinan dan komitmen sebagai landasan. Dan siklus integrasi, desain, implementasi, evaluasi dan perbaikan yang mengelilingi akan saling berhubungan untuk mencapai tujuan organisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Berikut komponen kerangka kerja manajemen risiko;

6 Komponen Kerangka Kerja Manajemen Risiko

  1. Kepemimpinan dan Komitmen
    Kepemimpinan dan Komitmen adalah pusat atau dasar dalam kerangka kerja manajemen risiko. Kepemimpinan adalah sebuah kemampuan atau kekuatan dalam diri seseorang untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan tujuan organisasi. Komitmen adalah suatu bentuk kewajiban yang mengikat seseorang dengan sesuatu, baik itu diri sendiri maupun orang lain.Kepemimpinan digambarkan dengan pemimpin perusahaan atau manajemen puncak yang memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas untuk berkomitmen dan terikat dalam menjalankan manajemen risiko. Dengan kata lain, manajemen risiko dilakukan melalui kebijakan, wewenang, tugas, tanggung jawab dan akuntabilitas pada tingkat organisasi yang disesuaikan dengan tujuan organisasi.
  2. Integrasi
    Secara harfiah, integrasi berarti penggabungan atau pembauran sesuatu yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh. Integrasi dalam manajemen risiko yaitu manajemen risiko menyatu sebagai satu kesatuan dalam sistem perusahaan atau organisasi.Integrasi pada kerangka kerja berarti bahwa manajemen risiko menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan atau menyatu dalam tata kelola, kepemimpinan dan komitmen perusahaan.
  3. Desain
    Kerangka selanjutnya yaitu desain yaitu suatu perencanaan atau perancangan. Dalam kerangka kerja manajemen risiko, desain mencakup beberapa hal, yaitu pemahaman organisasi dan konteksnya, penegasan komitmen manajemen risiko, penetapan peran, kewenangan, tanggung jawab dan akuntabilitas, alokasi sumber daya, dan penyiapan komunikasi dan konsultasi.
  4. Implementasi
    Implementasi atau pelaksanaan dalam kerangka kerja manajemen risiko merupakan tindak lanjut setelah desain manajemen risiko dibuat dan ditetapkan. Jika desain manajemen risiko diimplementasikan dengan baik, maka kerangka kerja manajemen risiko dapat memastikan proses manajemen risiko telah menjadi bagian dari semua kegiatan perusahaan.
  5. Evaluasi
    Evaluasi adalah suatu proses untuk mengukur atau menilai apakah suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan perencanaan. Dalam kerangka manajemen risiko, evaluasi dilakukan untuk mengukur kerangka kerja manajemen risiko terhadap tujuan, rencana implementasi, indikator dan perilaku yang diharapkan sesuai dengan tujuan organisasi atau perusahaan. Evaluasi tersebut dilakukan secara berkala agar jika ada kendala yang muncul bisa segera diatasi
  6. Perbaikan
    Penerapan kerangka kerja manajemen risiko juga meliputi perbaikan dan kemudian beradaptasi. Sehingga, perusahaan harus bisa melihat perubahan terjadi baik di lingkungan internal dan eksternal. Kemudian melakukan perbaikan sesuai tujuan organisasi

Dalam manajemen risiko, perusahaan harus melakukan perbaikan secara berkelanjutan mudah beradaptasi saat manakala terjadi kesenjangan atau ketidaksesuaian dalam meningkatkan pengelolaan risiko.

Baca juga : 

Pengelolaan risiko yang efektif berawal dari penerapan kerangka kerja manajemen risiko. Ibarat sebuah bangunan, semakin kokoh dasar dan kerangkanya, maka manajemen resiko juga akan dapat melindungi banyak orang dari berbagai resiko.

Menu
%d blogger menyukai ini: