Risk-Based Budgeting Jadi Senjata Baru KAI, Siap Hadapi Ketidakpastian Industri Transportasi

Rate this post

JAKARTA- PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membuka babak baru dalam penguatan tata kelola keuangan perusahaan. Melalui penerapan Risk-Based Budgeting, KAI memperkuat fondasi keuangan perusahaan untuk menghadapi berbagai tantangan industri transportasi yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian.

Komitmen terhadap Risk-Based Budgeting tersebut ditunjukkan melalui keikutsertaan delegasi KAI dalam pelatihan intensif bertajuk “Budgeting Planning, Control, and Optimization (Risk-Based Approach)” yang berlangsung selama tiga hari, pada 20–22 Mei 2026, di Hotel Lumire, Jakarta.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Risk-Based Budgeting  tidak lagi dipandang sebagai konsep pelengkap dalam penyusunan anggaran, melainkan menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan. 

Di tengah perubahan ekonomi global, fluktuasi biaya operasional, hingga meningkatnya tuntutan efisiensi, KAI menilai pendekatan berbasis risiko menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Dalam industri transportasi yang terus berkembang, perusahaan dituntut mampu menyusun anggaran secara lebih adaptif dan responsif terhadap berbagai potensi risiko. Tidak cukup hanya mengacu pada data historis, perencanaan keuangan kini harus mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.

Pendekatan tersebut dinilai semakin relevan seiring transformasi yang terus dilakukan KAI, mulai dari pengembangan layanan berbasis digital, peningkatan kualitas pelayanan pelanggan, hingga penguatan infrastruktur transportasi nasional.

Pelatihan yang diikuti KAI menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang manajemen risiko dan strategi keuangan.

Roni Sulistyo Sutrisno memberikan materi mengenai integrasi profil risiko ke dalam perencanaan anggaran tahunan perusahaan. Sementara Aditya Prima Putera membahas berbagai strategi pengendalian dan optimalisasi anggaran guna meningkatkan profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.

Tak hanya memperdalam kompetensi internal, kegiatan tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antar-BUMN. 

Delegasi KAI berkesempatan berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan praktisi dari PT Pertamina Gas terkait penerapan tata kelola keuangan yang prudent dan berorientasi pada keberlanjutan.

Selama pelatihan berlangsung, peserta mendalami empat kompetensi utama yang menjadi fondasi pengelolaan keuangan modern.

Pertama, Risk-Based Budgeting, yaitu penyusunan anggaran yang mampu menghadapi ketidakpastian ekonomi dan perubahan biaya operasional.

Kedua, Budgetary Control,  untuk memastikan penggunaan anggaran tetap selaras dengan target kinerja perusahaan.

Ketiga, Cost Optimization yang berfokus pada pencarian peluang efisiensi tanpa mengurangi kualitas pelayanan maupun standar keselamatan perjalanan kereta api. 

Keempat, Strategic Alignment, yakni menyelaraskan perencanaan keuangan dengan agenda transformasi dan pengembangan jangka panjang perusahaan.

Program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen KAI dalam menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten. Perusahaan menegaskan bahwa setiap alokasi anggaran harus memberikan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan, baik bagi pelayanan publik maupun peningkatan nilai perusahaan.

“Dengan mengadopsi pendekatan Risk-Based Budgeting, KAI siap menghadapi tantangan industri transportasi masa depan dengan fondasi keuangan yang lebih kokoh, transparan, dan akuntabel,” ungkap perwakilan delegasi KAI di Hotel Lumire.

Seiring rampungnya pelatihan pada 22 Mei 2026, KAI menatap masa depan dengan optimisme yang lebih kuat. Melalui penerapan Risk-Based Budgeting yang terintegrasi dengan tata kelola keuangan BUMN yang transparan dan akuntabel, perusahaan berharap mampu menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi masyarakat.