Strategi Pemulihan (RECOVERY) & Keberlanjuta Bisnis (BUSINESS CONTINUITY) Selama Masa New Normal

Berbicara Covid-19 sudah banyak tulisan terkait dampak serta akibat dari virus tersebut, saat ini kita sudah menatap era New Normal tetapi dengan tingkat kewaspadaan yang tetap tinggi serta mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, artinya era new normal tetap harus menggunakan pendekatan manajemen krisis. Pandemi Covid-19 ini merupakan krisis kesehatan yang berdampak ke seluruh aspek sendi kehidupan masyarakat khususnya aspek ekonomi dan bisnis. Dahulu di tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang berkibat penjarahan dimana-mana, tetapi zaman itu sektor bisnis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) menjadi backbone bagi perekonomian Indonesia, saat ini sektor UMKM  serta sektor lainnya mengalami kontraksi yang luar biasa.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan memprediksi kuartal 2 ini, Indonesia memiliki pertumbuhan negatif mencapai -3,1%. Hal tersebut diakibatkan pemberlakukan PSBB dibeberapa kota besar di Indonesia. Oleh karenanya, saat ini memasuki kuartal 3 beberapa kota besar sudah melepas PSBB nya sehingga membuat Presiden Jokowi menyatakan memasuki masa Era New Normal. Harapan di kuartal 3 New Normal ini pertumbuhan bisa kembali positif karena jika sampai tetap negatif Indonesia bersiap memasuki masa resesi. Untuk itu, kita mendukung apa yang dilakukan pemerintah agar sektor ekonomi dan bisnis bisa berjalan sediakala dengan syarat harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Lantas bagaimana strategi pemulihan dan keberlanjutan bisnis perusahaan yang efektif agar bisa tetap tumbuh dimasa new normal ini.

Terdapat 5 Strategi Pemulihan & Keberlanjutan Bisnis yang harus dilakukan :

  1. Membentuk Tim Manajemen Krisis

Membentuk tim khusus (adhock) dimana member nya mulai dari level senior manager sampai direksi, dengan membentuk minimal dua tim manajemen krisis yaitu Tim Protokol Krisis dan Tim Inovasi & Akselerasi Bisnis. Masa Pandemi Covid-19 ini banyak pengusaha dan manajemen perusahaan hanya berpikir bertahan dan wait and see for business, oleh karenanya banyak yang tidak sadar bahwa Inovasi dan Akselerasi Bisnis di Era Krisis dan New Normal akan sangat penting, itulah mengapa salah satu Tim Manajemen Krisis bukan hanya Tim Protokol Krisis yang bertugas membuat strategi bertahan tetapi juga harus bersamaan juga dibentuk Tim Inovasi & Akselerasi Bisnis untuk memikirkan ide-ide inovasi serta akselerasi bisnis selama pandemi Covid-19 sampai pasca krisis (era New Normal).

  1. Kolaborasi Tim Internal (Pendekatan Top Down dan Bottom-Up)

Respons yang cepat dan terkoordinasi membutuhkan keputusan yang diambil dari pucuk pimpinan (top-down). Namun beradaptasi dengan perubahan yang tidak terduga, dengan dinamika berbeda di level divisi atau group, juga membutuhkan pengambilan inisiatif yang terdesentralisasi (Bottom-Up).

  1. Digitalisasi Proses

Digitalisasi proses merupakan keniscayaan yang harus dilakukan perusahaan jika masih ingin bertahan dan tetap eksis, melalui digitalisasi proses kita sudah tidak perlu bertemu tatap muka langsung jika dibutuhkan, cukup membuka zoom atau google meet atau microsoft teams. Selain itu dengan digitalisasi proses, kita sudah harus bisa bekerja dengan menggunakan Collaboration Tools dalam bekerja seperti contohnya menggunakan Google Docs, Sheet atau Slide, dan masih banyak proses lainnya yang bisa dilakukan proses digitalisasi.

  1. Penyesuaian Target Market

Pandemi Covid-19 ini tidak semua bisnis mengalami kontraksi atau terdampak yang sangat dalam, masih ada beberapa industri yang tergolong menikmati kue krisis ini seperti bisnis telco, bisnis kesehatan, bisnis logistic, dll, termasuk ada juga industri yang tergolong antara (in between) yaitu  bisnis perbankan dan keuangan lainnya. Oleh karenanya, penting untuk dilakukan penyesuaian target market dan refocusing target serta rencana bisnis perusahaan.

  1. Restrukturisasi Organisasi dan Efisiensi Biaya

Ini adalah hal terakhir yang dilakukan, adalah melakukan restrukturisasi organisasi yang dirasa gemuk dan sulit untuk agile menjadi lebih lean dan mudah dimonitor dan dikontrol untuk bisa segera action jika ada perubahan (agile). Dan dari itu semua, dampaknya adalah terjadi efisiensi biaya dimana terdapat biaya di zaman normal menjadi zero di zaman new normal karena adanya perubahan-perubahan yang dilakukan perusahaan.

Menu
Open chat
%d blogger menyukai ini: