Pendampingan Penyusunan Business Impact Analysis (BIA)

Artikel

Kerja Sama Operasi Sucofindo – Surveyor Indonesia (KSOSCISI) adalah organisasi bisnis dalam bentuk kerjasama operasi antara PT Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO) dan PT Surveyor Indonesia (PTSI) dalam ruang lingkup jasa verifikasi impor.

Sebagai satu-satunya perusahaan yang dapat menyediakan layanan tersebut di Indonesia, KSOSCISI harus mampu memastikan penyediaan layanan meskipun terjadi kondisi disruptif yang berpotensi menghentikan proses operasi. Oleh karena itu implementasi BCMS menjadi krusial untuk diterapkan oleh perusahaan.

Salah satu proses implementasi ini BCMS ini adalah pelatihan Business Impact Analysis, dengan pelatihan ini diharapkan KSO SCISI mampu menganalisa dampak kondisi disruptif terhadap proses serta menentukan kerangka waktu dan sumber daya yang dibutuhkan dalam rangka pemulihan aktivitas-aktivitas kritik.

Dalam penertian, Business Impact Analysis (BIA) adalah suatu proses menentukan dan mendokumentasikan dampak bisnis dari gangguan terhadap kegiatan yang mengdukung produk dan layanan utama. Dampak bisnisnya dapat berupa revenue dan non revenue (stakehlder/custopmer, regulasi/legal dn reputasi). BIA akan menghasilkan daftar krisis aplikasi pada IT, krisis pada fasilitas, krisis proses bisnis pada customer service dan business support.

Metode dalam membangun Business Impact Analysis adalah mendaftarkan seluruh sistem/aplikasi atau fasilitas atau aktivitas, lalu menentukan impact level, dan terakhir menentukan sitem aplikasi atau aktivitas kritis.

Melalui diskusi lintas unit, maka akan diperoleh pertimbangan yang lebih rasional. BIA yang baik mampu memproriritaskan sitem/aplikasi atau fasilitas atau aktivitas. Jadi hanya sistem/aplikasi atau fasilitas atau aktivitas yang benar-benar signifikan bagi bisnis perusahaan yang masuk ketegori kritikal.

Ada beberapa permasalahan yang biasanya sering terjadi di lapangan ketika melaksanakan BIA, seperti; semua divisi bisnis merasa aplikasinya penting dan sulitnya memilih cara mengukur dan menghitung dampak bisnisyang objektif dan akurat.

Maka dari itu, BIA harus ditinjau setidaknya sekali dalam setahun atau lebih sering jika terjadi perubahan bisnis yang besar, perubahan signifikan pada linkungan bisnis eksternal seperti pasar dan regulasi. Namun tidak seluruh proses BIA perlu diulang saat revisi, hanya aktifitas yang terpengaruh oleh perubahan organisasi yang perlu ditinjau secara menyeluruh.(**)

Menu
%d blogger menyukai ini: