Dalam beberapa tahun terakhir, implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) sering dianggap sebagai faktor yang memperlambat laju pertumbuhan bisnis dan ekonomi. Banyak pelaku usaha menilai penerapan GRC terlalu birokratis, menambah beban administrasi, dan menghambat inovasi. Namun, hasil Studi RGS 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menunjukkan sebaliknya, penerapan GRC yang tepat dapat meningkatkan efisiensi, kepercayaan investor, dan stabilitas ekonomi nasional.
Artikel ini membahas bagaimana persepsi keliru tersebut bisa muncul, apa temuan penting dari RGS 2025, serta bagaimana organisasi dapat memanfaatkan GRC sebagai motor pertumbuhan, bukan penghambatnya.
Daftar Isi
- 1 Apa Itu GRC dan Mengapa Dianggap “Menghambat”?
- 2 Temuan Utama Studi RGS 2025: GRC Sebagai Pendorong Pertumbuhan
- 3 Mengapa Persepsi Negatif Masih Bertahan?
- 4 Strategi Mengubah GRC Menjadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
- 5 Dampak Positif GRC terhadap Pertumbuhan Ekonomi
- 6 Rekomendasi: Solusi GRC Terpadu dari Proxsis
- 7 Kesimpulan
- 8 FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apa Itu GRC dan Mengapa Dianggap “Menghambat”?
Governance, Risk, and Compliance (GRC) adalah sistem terpadu yang mengatur tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan dalam organisasi. Tujuannya sederhana: memastikan bahwa setiap aktivitas bisnis berjalan sesuai arah strategis, meminimalkan risiko, dan memenuhi regulasi.
Namun, persepsi negatif terhadap GRC muncul karena beberapa hal:
- Prosedur GRC dianggap memperlambat pengambilan keputusan.
- Implementasi sering dipandang sebagai formalitas tanpa manfaat nyata.
- Biaya awal penerapan sistem GRC dianggap tinggi.
Padahal, bila dijalankan dengan strategi yang tepat, GRC bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi investasi jangka panjang untuk keberlanjutan bisnis.
Temuan Utama Studi RGS 2025: GRC Sebagai Pendorong Pertumbuhan
Dalam Regulatory Governance Survey (RGS) 2025, OJK menyoroti pentingnya sinergi antara regulasi dan pertumbuhan ekonomi. Studi tersebut mengungkap bahwa perusahaan dengan sistem GRC yang kuat menunjukkan:
- Pertumbuhan laba bersih 18% lebih tinggi dibanding perusahaan tanpa sistem GRC terintegrasi.
- Risiko kepatuhan menurun hingga 40%, mengurangi potensi sanksi dan reputational loss.
- Tingkat kepercayaan investor meningkat signifikan, terutama di sektor keuangan dan energi.
RGS 2025 juga menegaskan bahwa GRC bukan penghambat, melainkan enabler bagi perusahaan dalam menghadapi dinamika ekonomi global, digitalisasi, dan risiko pasar yang semakin kompleks.
Baca juga : RegTech: Solusi GRC Pasca RGS 2025 OJK
Mengapa Persepsi Negatif Masih Bertahan?
Meskipun data menunjukkan manfaatnya, masih banyak organisasi yang menilai GRC sebagai hambatan. Ada tiga penyebab utama:
1. Pendekatan Implementasi yang Salah
Banyak perusahaan menerapkan GRC sebagai proyek administratif, bukan strategi bisnis. Akibatnya, GRC hanya menghasilkan dokumen dan laporan tanpa dampak nyata terhadap kinerja operasional.
2. Kurangnya Pemahaman di Level Manajemen
Sebagian pimpinan belum memahami bahwa GRC adalah alat untuk menciptakan nilai, bukan sekadar memenuhi kepatuhan. Ketika manajemen puncak tidak mendukung, penerapan GRC menjadi parsial dan tidak efektif.
3. Sistem yang Belum Terintegrasi
Banyak organisasi masih menggunakan sistem GRC yang terpisah-pisah, menyebabkan redundansi data dan inefisiensi. Padahal, integrasi sistem GRC dapat memangkas waktu analisis dan mempercepat pengambilan keputusan berbasis risiko.
Baca juga : ICoFR Wajib! Strategi Menghadapi Implementasi POJK 15/2024 yang Efektif
Strategi Mengubah GRC Menjadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Agar GRC tidak dianggap menghambat, perusahaan perlu mengubah paradigma penerapan dari “kepatuhan administratif” menjadi “strategi pengelolaan nilai.” Beberapa langkah penting antara lain:
1. Menjadikan GRC Bagian dari Strategi Bisnis
Integrasikan proses GRC dalam setiap tahap perencanaan bisnis, bukan hanya saat audit atau pelaporan. Dengan begitu, pengambilan keputusan menjadi lebih terukur dan efisien.
2. Mengadopsi Teknologi RegTech
Pemanfaatan Regulatory Technology (RegTech) memungkinkan otomatisasi pelaporan dan pemantauan risiko. Teknologi ini mempercepat proses GRC sekaligus menekan biaya operasional.
3. Meningkatkan Kapasitas SDM
Pelatihan rutin di bidang tata kelola, risiko, dan kepatuhan membantu membangun budaya GRC yang kuat di semua level organisasi.
4. Kolaborasi dengan Regulator
Perusahaan perlu menjalin komunikasi terbuka dengan OJK dan instansi terkait untuk memahami kebijakan terbaru serta menghindari salah tafsir terhadap regulasi.
Baca juga : Pedoman GCG Assessment: POJK 21/2015 & SEOJK 32/2015
Dampak Positif GRC terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Penerapan GRC yang efektif dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam beberapa aspek penting:
- Meningkatkan kepercayaan investor melalui transparansi dan pengelolaan risiko yang baik.
- Mengurangi biaya akibat pelanggaran hukum dan sanksi administratif.
- Mempercepat akses pendanaan karena perusahaan dengan tata kelola kuat lebih mudah memperoleh kredit atau investasi.
- Meningkatkan daya saing nasional melalui efisiensi dan kepatuhan regulasi yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, GRC yang diterapkan dengan benar menjadi pondasi stabilitas ekonomi, bukan penghalang kemajuan.
Baca juga : Integrasi ICoFR dan GRC: Strategi Kepatuhan Modern
Rekomendasi: Solusi GRC Terpadu dari Proxsis
Untuk mengoptimalkan penerapan GRC, organisasi dapat memanfaatkan layanan profesional dari Proxsis, penyedia solusi tata kelola dan kepatuhan terkemuka di Indonesia.
Layanan GRC Proxsis membantu perusahaan dalam:
- Merancang dan menerapkan framework GRC yang sesuai dengan karakteristik bisnis.
- Mengintegrasikan sistem tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan berbasis teknologi.
- Melakukan asesmen kesiapan GRC sesuai regulasi terbaru seperti RGS 2025 dan POJK 15/2024.
- Menyediakan pelatihan GRC untuk manajemen dan staf agar tercipta budaya kepatuhan yang kuat.
Dengan pendekatan strategis dan tim ahli berpengalaman, Proxsis memastikan penerapan GRC bukan sekadar kewajiban, melainkan motor penggerak pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Persepsi bahwa GRC menghambat pertumbuhan ekonomi perlu diluruskan. Berdasarkan hasil Studi RGS 2025, justru GRC yang terintegrasi dengan baik mampu menciptakan stabilitas, efisiensi, dan kepercayaan pasar.
Kuncinya adalah perubahan paradigma dari GRC sebagai beban menjadi GRC sebagai strategi nilai tambah. Dengan dukungan teknologi RegTech dan layanan profesional seperti dari Proxsis, penerapan GRC dapat menjadi katalis penting bagi ekonomi yang tangguh dan berdaya saing tinggi.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apa itu GRC?
GRC adalah sistem terintegrasi yang mencakup Governance, Risk Management, dan Compliance untuk memastikan kegiatan bisnis berjalan efektif dan sesuai regulasi. - Mengapa GRC dianggap menghambat ekonomi?
Karena banyak yang menilai penerapan GRC memperlambat proses bisnis dan menambah beban administrasi, padahal sebenarnya justru meningkatkan efisiensi. - Apa yang dibahas dalam Studi RGS 2025 OJK?
RGS 2025 menilai efektivitas regulasi dan menunjukkan bahwa penerapan GRC mendorong pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor. - Bagaimana GRC dapat mendukung pertumbuhan ekonomi?
Dengan mencegah risiko, meningkatkan transparansi, dan membangun kepercayaan pasar yang mendorong investasi. - Apa peran teknologi dalam penerapan GRC?
Teknologi RegTech memungkinkan otomatisasi pelaporan, pemantauan risiko, dan analisis kepatuhan secara efisien. - Siapa yang sebaiknya bertanggung jawab atas penerapan GRC di perusahaan?
Manajemen puncak bersama unit kepatuhan dan risiko harus berkolaborasi di bawah pengawasan Dewan Komisaris. - Bagaimana Proxsis membantu perusahaan menerapkan GRC secara efektif?
Proxsis menyediakan layanan konsultasi, asesmen, pelatihan, dan integrasi sistem GRC yang sesuai dengan kebutuhan dan regulasi terbaru.
Optimalkan penerapan GRC tanpa menghambat pertumbuhan bisnis Anda!
Konsultasikan strategi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan perusahaan Anda bersama ahli GRC Proxsis Group.
👉 Konsultasi GRC Sekarang!






