Home / Training / Integrasi ES-GRC

Pelatihan Integrasi ES-GRC Bersertifikat

Bangun Sistem GRC Terintegrasi yang Bisa Dijalankan, Dipantau, dan Ditingkatkan

Tekanan dari luar makin nyata. OJK menargetkan aturan baru laporan keberlanjutan berstandar global terbit pada akhir 2026. Per Juli 2026, sudah ada 981 emiten BEI yang menerbitkan laporan ESG tahun 2025, dengan standar pelaporan keberlanjutan baru (PSPK) yang berlaku efektif Januari 2027.

Bagi organisasi yang fungsi GRC-nya masih berjalan terpisah, batas waktu itu sudah terasa.

Tekanan Regulasi

Akhir 2026

OJK menargetkan aturan baru laporan keberlanjutan berstandar global terbit

981 emiten

BEI menerbitkan laporan ESG tahun 2025 (per Juli 2026)

Januari 2027

Standar pelaporan keberlanjutan baru (PSPK) berlaku efektif

Butuh jadwal pelatihan bulan ini?

Definisi

Apa Itu Integrasi ES-GRC dan Mengapa Relevan Sekarang?

Integrasi ES-GRC adalah pendekatan yang menyatukan fungsi Governance, Risk Management, dan Compliance ke dalam satu kerangka kerja yang terkoordinasi, dengan dimensi ESG masuk ke dalam cara kerja sehari-hari organisasi. Tiga fungsi yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, kini dikelola melalui sistem yang saling terhubung dan bisa dipantau bersama.

OCEG (Open Compliance & Ethics Group) memperkenalkan konsep GRC pada tahun 2002. Mereka mendefinisikannya sebagai kumpulan kapabilitas terintegrasi yang memungkinkan organisasi mencapai tujuannya, mengelola ketidakpastian, dan bertindak dengan integritas. OCEG menyebut kondisi ideal ini sebagai “Principled Performance.”

Urgensinya semakin konkret. Secara global, 76% eksekutif menyatakan keberlanjutan sudah menjadi bagian sentral dari strategi bisnis mereka. Di Indonesia, 2026 adalah jendela terakhir bagi perusahaan untuk membangun infrastruktur data ESG sebelum pelaporan mandatory berlaku penuh pada Januari 2027.

Organisasi yang fungsi GRC-nya masih terpisah akan kesulitan memenuhi ekspektasi regulator dan pemangku kepentingan sekaligus. Integrasi bukan soal efisiensi internal semata. Ini soal kepatuhan dan kepercayaan.

Masalah

Masalah Nyata GRC yang Masih Berjalan Silo

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Laporan risiko yang tidak sinkron antar departemen, kontrol yang dikerjakan dua kali oleh tim berbeda, dan gap yang baru muncul ke permukaan saat audit.

51% profesional kesulitan mengidentifikasi risiko kritis justru karena data tersimpan di silo yang tidak terhubung. Ini bukan masalah kapabilitas individu. Ini masalah sistem yang tidak dirancang untuk bekerja bersama.

Di Indonesia, kondisi GRC yang silo terwujud dalam koordinasi yang lemah, fungsi yang tumpang tindih, dan konflik prioritas antar departemen. Buku Panduan GRC Forum Indonesia mencatat bahwa banyak organisasi baru menyadari eksposur risikonya setelah insiden terjadi, bukan sebelumnya.

Mengukur level maturitas risiko organisasi Anda saat ini adalah cara paling cepat untuk melihat di mana gap terbesarnya sebelum menentukan langkah berikutnya.

Data tersilo

51%

profesional kesulitan mengidentifikasi risiko kritis karena data tersimpan di silo yang tidak terhubung

Gejala di lapangan

Kerja ganda

Laporan risiko tidak sinkron antar departemen, kontrol dikerjakan dua kali oleh tim berbeda, gap baru muncul saat audit

Kompetensi

Apa yang Dipelajari dalam Pelatihan Integrasi ES-GRC Bersertifikat?

Pelatihan ini membekali peserta dengan kemampuan merancang, menjalankan, dan memantau arsitektur GRC terintegrasi, dari tahap konseptual hingga implementasi. Peserta tidak hanya memahami teori. Mereka langsung mempraktikkan cara menyusun risk register lintas fungsi, membangun compliance framework, dan memetakan kontrol ke dalam kerangka standar internasional.

Setelah menyelesaikan program ini, peserta mampu:

Setiap poin di atas adalah respons terhadap tantangan nyata yang dihadapi organisasi saat ini, bukan daftar kompetensi generik.

Silabus

Silabus Lengkap: 7 Modul yang Membentuk Kompetensi Anda

01 Fondasi Konseptual Integrasi ES-GRC

Peserta membangun pemahaman tentang masing-masing pilar GRC dan pergeseran dari pendekatan silo menuju integrasi. Kerangka yang dibahas mencakup COSO ERM, ISO 31000, ISO 37301, COBIT, dan GRC Capability Model versi 3.5 dari OCEG, yang dikenal luas sebagai Red Book. OCEG mendefinisikan model ini sebagai satu-satunya standar open-source yang mengintegrasikan governance, risk, audit, compliance, ethics, dan IT dalam satu pendekatan terpadu.

Modul ini membahas komponen tata kelola perusahaan yang efektif: struktur organisasi, peran dewan direksi dan komite, kebijakan korporasi, etika bisnis, transparansi, dan akuntabilitas. Tata kelola yang kuat menjadi fondasi yang memungkinkan manajemen risiko dan kepatuhan dapat diaudit secara konsisten.

Teknik identifikasi, penilaian, dan penanganan risiko berdasarkan ISO 31000 dan COSO ERM. Modul ini membahas bagaimana manajemen risiko diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan strategis dan operasional, termasuk pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) lintas fungsi dan unit bisnis. Untuk memahami fondasi konsepnya lebih dalam, baca artikel kami tentang konsep dasar manajemen risiko organisasi.

Fokus pada persyaratan ISO 37301:2021 untuk Compliance Management System (CMS). ISO 37301 adalah standar internasional yang bisa tersertifikasi, menggantikan ISO 19600. Cakupannya meliputi identifikasi risiko kepatuhan, penyusunan kebijakan dan prosedur, mekanisme whistleblowing, investigasi, dan penyelesaian insiden. ISO 31000 menyediakan metodologi risk management yang menjadi basis risk assessment dalam ISO 37301: dua standar ini saling melengkapi, bukan berdiri sendiri. Untuk gambaran lebih luas, lihat halaman sistem manajemen kepatuhan kami.

Peserta menyusun arsitektur GRC terintegrasi menggunakan GRC Capability Model (OCEG Red Book). Proses ini mencakup identifikasi common control, eliminasi duplikasi, dan penciptaan sinergi antar fungsi GRC. Modul ini adalah inti dari seluruh program.

GRC software platforms, data analytics, kecerdasan buatan, dan otomatisasi dalam mendukung proses GRC dibahas secara praktis. Peserta belajar mengevaluasi vendor dan memilih solusi teknologi yang sesuai dengan skala dan kebutuhan spesifik organisasi mereka.

Roadmap implementasi GRC terintegrasi: manajemen perubahan, pelatihan tim internal, sosialisasi, dan pengukuran efektivitas. Modul ini memastikan kerangka kerja GRC yang dibangun tidak berhenti di dokumen, melainkan berjalan dan terus ditingkatkan secara berkala.

Untuk Siapa

Siapa yang Paling Diuntungkan dari Pelatihan Ini?

Program ini paling tepat untuk profesional yang sudah memegang peran GRC dan ingin bergerak dari cara kerja silo menuju sistem terintegrasi. Tingkat program ini bukan pengantar GRC. Peserta yang ideal adalah mereka yang siap membangun atau memperkuat arsitektur GRC di organisasinya.

Jabatan yang direkomendasikan mencakup:

Chief Risk Officer (CRO)

Chief Compliance Officer (CCO)

Chief Governance Officer (CGO)

Risk Manager

Compliance Officer

Internal Auditor

External Auditor

Legal Counsel

Corporate Secretary

Quality Manager

IT Governance Professional

Konsultan Manajemen yang bertanggung jawab atas implementasi GRC

Bagi yang ingin melengkapi kompetensi ini dengan jalur formal dan terstandar, GRC Indonesia menyediakan program sertifikasi profesi yang diakui BNSP, mulai dari QRMA hingga QCRO.

Metode

Bagaimana Metode Pelatihan Ini Bekerja?

Setelah mengikuti pelatihan RBIA, peserta menguasai paradigma baru audit berbasis risiko secara praktis. Ini mencakup kemampuan memahami proses RBIA secara menyeluruh, menjalankan peran auditor secara efektif, menggunakan teknik pengujian yang tepat, dan menulis laporan audit yang mudah dipahami manajemen, semuanya dalam satu program terpadu.

Secara lebih rinci, ada lima tujuan konkret yang dicapai peserta:

Interactive Lecture

Pemaparan oleh instruktur bersertifikasi internasional dengan pengalaman implementasi GRC langsung di lapangan.

Workshop Praktis

Peserta merancang arsitektur GRC terintegrasi, menyusun risk register, dan mengembangkan compliance framework dari studi kasus nyata.

Studi Kasus Komprehensif

Analisis keberhasilan dan kegagalan integrasi GRC di berbagai jenis organisasi sebagai bahan diskusi kelompok.

Simulasi GRC Integration

Peserta mengerjakan skenario integrasi fungsi GRC, mengidentifikasi gap, dan menyusun rencana aksi.

Group Discussion & Presentation

Diskusi kelompok dan presentasi hasil analisis untuk mengasah komunikasi lintas fungsi.

Framework Mapping Exercise

Pemetaan langsung kontrol, risiko, dan persyaratan kepatuhan ke dalam kerangka GRC terintegrasi.

Lokasi

Lokasi Pelatihan

Jakarta

Gedung Permata Kuningan, Lt. 17, Jakarta Selatan

Bandung

Hotel Aston Tropicana, Cihampelas*

Yogyakarta

Hotel Khas Tugu

Surabaya

AMG Tower Lantai 17, Gayungan

*Syarat dan ketentuan berlaku untuk lokasi tertentu.

Jadwal

Jadwal Pelatihan 2026

Januari

21–22

Februari

18–19

Maret

18–19

April

21–22

Mei

19–20

Juni

17–18

Juli

21–22

Agustus

18–19

September

15–16

Oktober

20–21

November

17–18

Desember

8–9

Fasilitas

Investasi & Fasilitas

Offline

Rp 5.500.000,-

per peserta

Online

Rp 3.500.000,-

per peserta

Setiap peserta mendapatkan:

Siap Mengubah Audit Internal Anda Menjadi Berbasis Risiko?

Hubungi Kami

Bagikan Pelatihan

FAQ

Pertanyaan yang Sering Diajukan

01 Apakah Pelatihan Integrasi ES-GRC cocok untuk pemula di bidang GRC?

Program ini dirancang untuk peserta yang sudah memiliki pemahaman dasar tentang GRC atau sudah menjalankan salah satu fungsinya di organisasi. Jika Anda sudah memegang peran seperti Risk Manager, Compliance Officer, atau Internal Auditor, Anda sudah berada di jalur yang tepat. Bagi yang masih baru di bidang ini, sebaiknya mulai dari program pengantar terlebih dahulu sebelum masuk ke program integrasi.

GRC konvensional berfokus pada integrasi governance, risk, dan compliance sebagai satu sistem manajemen. ES-GRC menambahkan dimensi ESG (Environmental, Social, and Governance) ke dalam kerangka tersebut, sehingga aspek keberlanjutan dan pelaporan iklim masuk ke dalam tata kelola dan manajemen risiko sehari-hari, bukan sebagai laporan terpisah. Ini sangat relevan dengan arah regulasi OJK yang mewajibkan laporan keberlanjutan berstandar global.

Ya. Setiap peserta yang menyelesaikan program mendapatkan Sertifikat Pelatihan dari GRC Institute. Sertifikat ini menjadi bukti kompetensi formal yang bisa dicantumkan dalam profil profesional Anda. Bagi yang ingin jalur sertifikasi profesi BNSP, GRC Indonesia menyediakan program tersendiri mulai dari tingkat QRMA hingga QCRO.

Program berlangsung selama dua hari penuh, tersedia setiap bulan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Investasi untuk mode offline adalah Rp 5.500.000 per peserta, dan Rp 3.500.000 untuk mode online. Setiap peserta mendapatkan modul materi cetak dan digital, template GRC Integration Framework, akses konsultasi pasca-pelatihan, dan training kit.

Program mencakup lima kerangka utama: COSO ERM, ISO 31000 (Risk Management), ISO 37301:2021 (Compliance Management System), COBIT (IT Governance), dan GRC Capability Model 3.5 dari OCEG. Kombinasi kelima kerangka ini memastikan peserta memahami integrasi GRC dari berbagai sudut pandang yang saling melengkapi, bukan dari satu standar tunggal.