JAKARTA- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengirimkan perwakilan tim manajemen risiko dan tata kelola mengikuti pelatihan penerapan Key Risk Indicator (KRI) dan Early Warning System (EWS). Pelatihan berlangsung selama tiga hari di Jakarta, Selasa (28/07/2026) hingga Kamis (30/07/2026).
Keikutsertaan itu menjadi bagian dari langkah BEI mengakselerasi transformasi pengelolaan risiko. Pendekatan digeser dari reaktif atau lagging indicator menuju proaktif atau leading indicator.
BEI menjalankan fungsi sebagai self-regulatory organization (SRO) di pasar modal. Kemampuan mendeteksi, memantau, dan merespons risiko sejak dini menjadi fondasi bagi stabilitas serta kepercayaan pasar modal Indonesia.
Sistem peringatan dini (EWS) yang efektif bukan sekadar mengukur risiko, tapi mencegahnya sebelum terjadi. Tingkatkan kapabilitas tim Anda dalam merancang Key Risk Indicator (KRI) yang terukur dan proaktif seperti langkah strategis BEI.
Pelatihan dipandu Yus Indra, praktisi di bidang manajemen risiko korporasi, tata kelola, dan implementasi Enterprise Risk Management (ERM). Peserta mendalami perancangan, implementasi, hingga pemeliharaan sistem KRI dan EWS yang terintegrasi dengan kerangka manajemen risiko organisasi.
Yus Indra menekankan desain KRI harus terukur, relevan, dan terhubung langsung dengan risk appetite organisasi. Menurutnya, indikator risiko yang tidak dirancang dengan baik dapat menciptakan ilusi keamanan atau false sense of security. Kondisi tersebut menghambat organisasi dalam mengantisipasi ancaman yang berkembang.
Sepanjang tiga hari, peserta mempelajari fundamental KRI sebagai metrik kuantitatif pemberi sinyal peringatan dini. Materi juga mencakup pembedaan KRI yang bersifat forward-looking dengan KPI yang backward-looking.
Modul lain membahas kerangka pengembangan KRI dengan kriteria SMART-R. Kriteria itu meliputi specific, measurable, actionable, relevant, time-bound, dan risk-linked. Peserta turut mempelajari penetapan ambang batas melalui sistem hijau-kuning-merah atau green-amber-red traffic light system.
Jangan biarkan false sense of security menghambat stabilitas bisnis Anda. Bangun arsitektur manajemen risiko yang terintegrasi penuh dengan risk appetite organisasi untuk memenuhi standar kepatuhan operasional.
Pelatihan membahas arsitektur EWS sebagai sistem yang menghubungkan KRI dengan proses eskalasi dan pengambilan keputusan manajemen. Materi pemetaan risiko mengaitkan KRI dengan risk register serta risk appetite yang ditetapkan dewan komisaris dan direksi.
Peserta juga mendapat materi perancangan dashboard risiko yang board-ready, termasuk visualisasi tren dan pelaporan kepada komite audit. Modul penutup mencakup integrasi KRI dengan kerangka ERM berbasis COSO, studi kasus, serta simulasi implementasi.
Bagi BEI, penerapan KRI dan EWS diarahkan pada deteksi dini risiko sistemik di pasar modal. Cakupannya mulai dari volatilitas ekstrem, anomali perdagangan, hingga risiko operasional.
Penerapan KRI yang terstruktur juga memperkuat akuntabilitas manajemen risiko di seluruh level organisasi. Sistem pemantauan risiko yang memadai sekaligus menjadi prasyarat kepatuhan terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Melalui pelatihan yang dipandu oleh Bapak Yus Indra ini, kami memperoleh pemahaman komprehensif mengenai perancangan dan implementasi KRI serta EWS yang efektif. Hal ini menjadi bekal kritis bagi tim manajemen risiko PT Bursa Efek Indonesia untuk memastikan kemampuan deteksi dini dan respons terhadap risiko di seluruh lini operasional pasar modal,” ujar perwakilan manajemen PT Bursa Efek Indonesia.
Pelatihan penerapan KRI dan EWS itu berakhir pada 30 Juli 2026. BEI menyatakan komitmennya membangun sistem manajemen risiko yang proaktif, terukur, dan selaras dengan standar tata kelola internasional.
[banner] Tertarik Mengikuti Pelatihan Serupa? Daftar Pelatihan Sekarang →
Ingin mengimplementasikan Traffic Light System untuk memantau ancaman strategis di perusahaan Anda? Dapatkan panduan komprehensif dan praktis langsung dari praktisi manajemen risiko berpengalaman.